Malam, tanggal 2 Oktober 2018 diumumkan perolehan medali ajang IMSO (International Mathematics and Science Olympiad). IMSO bukan ajang ecek-ecek di bidang matematika dan sains pada level internasional. Tim dari Indonesia merupakan siswa-siswa terbaik peraih medali di OSN 2018, dengan sebelumnya dilaksanakan training camp dan seleksi sebanyak 3 kali sehingga menjadi 12 anak yang menjadi tim Indonesia. Dan Indonesia mengukir prestasi gemilang dengan perolehan medali emas, perak dan perunggu. Saya coba tunjukkan prestasi lainnya. Di ajang IMC (International Mathematics Competition) tahun 2018 di Bulgaria yang diiikuti oleh 48 negara, Indonesia mampu masuk ke sepuluh besar. Tidak hanya itu, di ajang IGO (Iranian Geometry Olympiad) tahun 2018 yang baru terlaksana bulan September, Indonesia mampu memperoleh emas ke-4. dan masih banyak prestasi anak bangsa di bidang matematika lainnya di level internasional.
Mohon maaf, tulisan ini jauh dari analisa yang tajam, tetapi setidaknya saya mengajak untuk lebih banyak melihat prestasi, dan mengurangi melihat kekurangan-kekurangan yang pada akhirnya menyalahkan satu dan lain pihak (guru dan pemerintah).
Indonesia akan menjadi kecil, jika kita sendiri sering mengecilkannya. Indonesia akan menjadi besar jika kita membesarkannya (note: buka membesar-besarkannya tanpa bukti). Sering-seringlah melihat prestasi anak bangsa. Sedih melihat tulisan di Kompas tertanggal 24 September 2018 yang berjudul “Indonesia Darurat Matematika”.
Data-data yang dikeluarkan oleh TIMSS, PISA jangan dijadikan satu-satunay acuan. Bukan berarti data tersebut tidak diperlukan, tetapi bisa menjadi bahan refleksi yang tidak mengesampingkan prestasi-prestasi yang telah diraih putra-putri terbaik bangsa di bidang matematika di tingkat dunia.
Hery Sutarto*
*) Dosen Universitas Negeri Semarang; tim Pembina Olimpiade Matematika Propinsi Jawa Tengah; Owner “Inspire” Bimbingan Olimpiade Matematika
2 thoughts on “Siapa Bilang Indonesia Darurat Matematika? “Lihatlah Prestasi Anak Bangsa””
lamtiur lumban gaol
Darurat matematika itu hanya bagi siswa yg kurang berlatih aja pak.bukan negaranya.kompas mungkin melihat sisi kurangnya saja.
Sugiatno
Psikologi positif, mungkin sudah saatnya diterapkan ke dalam pembelajaran matematika di sekolah. Penerapan psikologi positif, antara lain guru berupaya mengedepankan kata “tantangan” daripada kata “sulit” saat dia mengajarkan suatu materi matematika.