“kan kuseberangi lautan, kan kudaki gunung tinggi, jika punya tujuan meng-inpsire”. Tanggal 11-13 menuju Karimunjawa, Kabupaten Jepara dalam rangka penguatan kemampuan bermatematika dalam penyiapan Tes Kemampuan Akademik (TKA).
Di awal pertemuan, terjadi diskusi kecil tentang TKA dan hasil yang sudah rilis. Salah satu guru dan d-iaminkan oleh bapak-ibu guru lain, bahwa TKA menjadi beban, tidak hanya siswa, tetapi guru juga merasakan beban itu. Pertanyaan balik, kenapa TKA dirasakan menjadi beban? yang kemudian di jawab, dikarenakan para siswa merasa tertekan.
Kemudian Saya jawab, lihatlah salah satu lirik lagunya Virgoun, “Bila bentakan kecilku patahkan hatimu, Lebih keras dari itu dunia ‘kan menghakimimu”.
Jika siswa, dengan adanya TKA saja yang hanya sebagai salah satu alat evaluasi sudah merasa tertekan, berat, maka ingatlah dunia di luar sana nantinya akan memberikan tekanan, ujian yang lebih berat untuk siswa-siswa kita. Dan tentunya lebih kejam. Anak harus dilatih terkadang masuk ke dalam situasi tertekan, dan bagaimana siswa tersebut mengatasinya, itulah esensi belajar untuk hidup.

Kalau mau tahu tentang apa yang disampaikan selama sesi pelatihan, bisa kontak admin untuk materi-materinya yah….
Saya hanya sedikit memberikan gambaran serunya diskusi yang terjadi.
Salah satunya mencoba menyajikan salah satu bentuk soal pilihan ganda biasa, yang merujuk pada salah satu kompetensi dasar. Kurang lebih soalnya sebagai berikut.
Terdapat empat potongan sedotan yang memiliki ukuran panjang 10 cm, 20 cm, 30 cm, dan 40 cm. Jika akan dibuat segitiga, ada berapa banyak segitiga yang dapat dibentuk?
A. 1
B. 2
C. 3
D. 4
Soal tersebut langsung di jawab oleh guru sebanyak 4 buah, yakni dengan ukuran (10, 20, 30), (10, 20, 40), (20, 30, 40), (10, 30, 40)
Kebetulan, di agenda terakhir ada sesi terkait pemanfaatan APE (Aalat Peraga Edukasi) sederhana, ada beberapa properti yang kami bawa, salah satunya sedotan. Maka saya ambil beberapa sedotan dan dipotong sesuai ukuran yang ada pada soal tersebut.
Saya ambil sedotan dengan ukuran 10 cm, 20 cm, 30 cm, dan saya rangkai di hadapan bapak-ibu guru, sambil menanyakan, apakah terbentuk segitiga? ternyata tidak. Demikian juga ketika saya mengambil sedotan dengan ukuran (10, 20, 40), (10, 30, 40).
Dan kemudian saya mengambil kelompok sedotan dengan ukuran (20, 30, 30), dipraktikan, di ditanyakan kembali ke para peserta. Nah, kupulan sedotan inilah yang mampu membentuk suatu segitiga.
Nah disiniliah, ada suatu proses yang namanya “belajar”, mungkin lebih tepatnya “belajar mendalam”. Matematika tidak hanya menghitung, menghafal, tetapi ada banyak hal yang lebih dahsyat ketika belajar matematika.
Nah sekarang, “bermatematika” nya di bagian mana?.
dengan menggunakan IFP yang baru datang, sekaligus pesanan darai bapak pengawas untuk sedikit melatihan pemanfaatan IFP, kami berikan penjelasann
Lihat segitiga ABC berikut

untuk setiap segitiga ABC, dengan panjang sisi-sisi AB, BC, AC, maka berlaku
AB+BC>AC
AB+AC>BC
BC+AC>AB
konsep itulah yang didalam matematika dikenal dengan Ketaksamaan segitiga. Meskipun untuk siswa mungkin tidak perlu dikenalkan “nama tersebut” cukup dengan menggunakan hand on activiti seperti tadi.

kembali ke soal tadi, mengapa ukuran sedotoan 10 cm, 20 cm, dan 30 cm tidak bisa membnetuk segitiga. Karena ukuran sisi-sisi tersebut tidak memenuhi syarat (10+20=30).
sedangkan kumpulan sedotan (20, 30, 40) memenuhi ketiga ketaksamaan tersebut, bahwa
20+30>40
20+40>30
30+40>20
yes, its doing Mathematics, Deep learning.
Semoga Meng”inspire”.