Artikel

Matematika yang Mengering

Duduk di belakang ketika mahasiswa melakukan praktik Pengalaman lapangan, yang sekarang berlabel Lantip tidak merasakan praktikan sedang mengajarkan matematika. Seakan menjadi SOP dalam mengajar, praktikan membuka laptop, menyampikan apa yang sudah disiapkan dengan jari-jari yang lincah sambil sesekali melakukan komunikasi dengan para siswa. Menanyakan paham atau tidaknya para siswa dari materi yang sudah disampaikan. Sebagian mengangguk, sebagian lagi menjawab dengan lirih “paham Bu”.

“oke anak-anak, pelajaran hari ini saya cukupkan, sampai ketemu lagi besok ya”. Kemudian saya keluar dengan sedikit bingung dengan melihat kondisi papan tulis yang masih bersih, buku dan ballpoin siswa juga tampak hanya tergeletak di atas meja masing-masing. Sudah beginikah belajar dan mengajar di kelas-kelas matematika? kelas yang seharusnya basah dengan aktivitas melatihkan anak-anak untuk bernalar, berpikir kritis, dan kreatif, serta menjadikan anak seorang problem solver, terkesan kering.

Saya bukan anti teknologi. Tetapi sepertinya ada yang masih belum pas menempatkan teknologi dalam kelas-kelas matematika yang seperti itu. Dalam sesi refleksi, saya sampaikan, “Belajar dan mengajar matematika, bisa ko menggunakan teknologi, tetapi bukan suatu keharusan menggunakan teknologi dalam kelas kelas matematika. Matematika bisa ko diajarkan dengan menyenangkan, tetapi bukan suatu kewajiban ketika kita mengajar anak-anak harus gembira. Nanti kita akan terjebak dengan “menyenangkan anak-anak”. itulah yang disebut Digital Pedagogy . Jikalau ingin menjadikan anak-anak gembira dan senang, jadilah Badut, maka semua anak akan menjadi senang dan gembira.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *