Artikel

Seminar Nasional, “Seminar Under Pressure”

Beberapa tahun lalu, seminar nasional menjadi kegiatan akademik yang sakral di kampus-kampus. Seminar nasional merupakan kegiatan akademik yang dinantikan oleh dosen-dosen, guru-guru sebagai ajang diseminasi hasil penelitian maupun paparan ide-ide untuk menyelesaikan masalah pendidikan maupun non pendidikan. Setiap ada seminar nasional, kursi-kursi akan dipenuhi oleh pemakalah maupun peserta yang hanya sebagai partisipan.  Tetapi pamor itu berangsur pudar. Seminar nasional menjadi agenda yang sepi peminat, menjadi kegiatan tahunan yang tak bergaung. Mengapa hal ini terjadi?

Scpopus menjadi biang dibalik peristiwa ini. Mungkin kata “biang” terdengar terlalu kasar. Tetapi saya belum menemukan kata yang lebih tepat. Pemerintah melalui kementerian terkait membuat standar. Luaran penelitian, salahsatunya artikel  yang termuat dalam jurnal terindeks scopus, sekolah-sekolah pascasarjana mensyaratkan mahasiwanya sebelum ujian berupa artikel yang terindek scopus. Peringkat unniversitas menjadi naik, jika banyak artikel yang dihasilkan oleh universitas tersebut yang terindeks scopus. Tidak hanya berhenti disitu, reward yang menggiurkan juga menanti bagi para penulis artikel yang terindeks scopus. Tidak scopus, tidak keren. Terbentuklah scopus minded.

Seminar internasional memberikan peluang tersebut. Seminar internasional menjadi alternatif yang lebih mudah untuk menuju ke scopus dibandingkan pure melalui jurnal. Kursi-kursi pada Seminar Internasional menjadi penuh jika dalam leaflet tertuliskan artikel terpilih akan di muat dalam jurnal tertentu yang terindeks scpous, artikel yang masuk akan dimuat dalam prosiding IOP. Yah, scopus menjadi mahluk baru yang menjadi idaman dalam dunia akademik.

Seminar nasional yang tidak menjanjikan scopus, tidak menjajakan IOP, menjadi sepi peminat. Akibatnya panitia mencari cara sehingga kegiatan seminar nasional tetap “tampak” ramai. Mewajibkan mahasiswa yang sudah ujian untuk menjadi pemakalah seminar nasional, dengan memaksa mahasiswa pasca sarjananya mengikuti seminar nasional, dengan memaksa mahasiswa program-program tertentu dalam kampusnya menghadiri seminar nasional. Maka saya menyebutnya seminar nasional sebagai seminar under pressure. Yang datang dalam kegiatan seminar nasional sebagian karena tekanan, karena ancaman.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *