Artikel

Keberhasilan Semu dalam Nilai Rapor

Evaluasi dalam setiap program perlu dilakukan, dengan berbagai macam tujuan dan cara. Tentunya dalam dunia pendidikan, khususnya dalam proses pembelajaran di kelas juga tak luput dari aktivitas evaluasi, untuk mengetahui tingkat keberhasilan proses pembelajaran yang dilakukan selama periode tertentu. Salah satu wujud dari produk yang namanya evaluasi adalah rapor yang diterimakan oleh masing-masing peserta didik pada akhir semester.

Saya masih memiliki nilai rapor Merah pada dokumen yang dibagikan, baik pada jenjang SD maupun SMP. Dan itu merupakan gambaran kemampuan akademik yang layak diterima pada saat itu.

Melihat nilai rapor siswa sekarang, kecenderungan para siswa mendapatkan nilai bagus. Terus terang saya agak kaget ketika salah satu siswa yang baru masuk ke bimbingan belajar Inspire berkata, “Saya tuh heran bu, saya tidak bisa matematika dan IPA, tetapi kenapa nilai rapor saya bagus-bagus. Saya nilainya 93”. Demikian juga dengan orangtuanya yang juga mempertanyakan dan memiliki keheranan yang sama dengan anaknya.

Bukan bermaksud menJudge bahwa penilaian yang dilakukan oleh guru tidak benar. Tetapi sepertinya ada sesuatu yang tidak dalam jalurnya tentang evaluasi ini. Efek berantainya sudah cukup bisa dirasakan. Anak mulai enggan untuk belajar, karena tahu nilainya juga akan baik. Anak tidak memiliki sikan kompetitif, toh nanti juga naik kelas. Gampanglah nanti untuk dapat sekolah, toh saya masuk zonasi sekolah X.

Saya tidak tahu dengan pasti, akar permasalahan ini. Apakah tuntutan kurikulum?, Indikator agar dikatakan kurikulum berhasil?, agar nanti mudah mendapatkan sekolah pada jenjang selanjutnya? atau….

Jika iya, maka saya mengatakan kita memberikan keberhasilan semu untuk anak, kebahagiaan semu untuk mereka, dan kemungkinan besar akan merasakan kesulitan pada saatnya nanti.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *