Mungkin masalah ini adalah masalah kecil yang sifatnya kasuistik. Lembagi kami membukan bimbingan belajar untuk jenjang SD, SMP, dan SMA. Tentunya siswa kami berasal dari berbagai sekolah yang berbeda, baik sekolah negeri mapun sekolah swasta. Menjelang Asesment akhir untuk jenjang SMP, ada beberapa siswa yang mendaftar hanya untuk 2 kali pertemuan. Para orang tua siswa mungkin sudah ada kekhawtiran terkait dengan kelulusan dan niai yang akan didapatkan anak-anak mereka.
Kami kaget dengan kemampuan dan penguasaan siswa tersebut. Dari materi yang sangat dasar, mereka tidak bisa menyelesaikan soal latihan yang kami berikan. Saya katakan jauh dibandingkan dengan siswa-siswa yang sudah secara reguler belajar bersama inspire. Bukan memuji siswa kami yang sudah lama, tetapi memang begitu kondisnya.

Setelah beberapa penerimaan hasil kelulusan siswa-siswa tersebut, kami melihat perbedaan yang sangat mencolok dari nilai yang didapatkan oleh beberapa siswa dari beberapa sekolah tersebut. Nilai dari beberapa anak yang hanya les 2 kali dengan kemampuan yang dibawah ternyata mendapatkan nilai raport untuk bidang matematika 94. Wow…
Sedangkan siswa dari sekolah lain dengan kemampuan yang notabene lebih baik, di nilai raport beberapa hanya di angka 84 sampai 88. Saya melihat ada perbedaan yang mencolok. Nilai yang diberikan antar sekolah TIDAK TERSTANDAR atau memiliki standar, tetapi tidak jelas.
Nilai raport tersebut memang bukan penentu kelulusan, karena memang para siswa dinyatakan lulus semua (mungkin di semua sekolah). Tetapi nilai raport tersebut menjadi bagian STANDAR dalam Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) untuk jenjang SMA sederajat.
Ini yang pada tulisan sebelumnya saya sebut keberhasilan semu dalam pendidikan yang tertuang dalam nilai. Bukan apa-apa, tetapi ketika dulu ada UN, nilai yang ada menjadi sama standarnya untuk semua sekolah, baik sekolah negeri maupun swasta. Semoga problem kecil yang dirasakan oleh kami, menjadi refleksi dalam dunia pendidikan.