Numeracy (numerasi) menjadi kata yang akhir-akhir ini sering kita dengar. Tetapi masih banyak juga yang masih kurang tepat memahami tentang numerasi itu sendiri. Apalagi ketika diterapkan dalam proses pembelajaran. Oleh karena itulah, SDIT Assalamah Ungaran mengadakan kegiatan dengan tajuk Peningkatan Kompetensi Numerasi Guru untuk Menciptakan Pembelajaran yang Menyenangkan dengan Permainan Numerik.
Hal ini tidak terlepas dari rangking indonesia dalam program asesmen internasional, PISA, yang tidak beranjak dari peringkat bawah.
Pembelajaran yang Menyenangkan
Frase ini terdengar cukup mudah dipahami. tetapi saya memiliki sudut pandang yang berbeda tentang pembelajaran yang menyenangkan, ungkap pembicara. Pembelajaran yang menyenangkan bukan berarti pembelajaran yang dipenuhi dengan gelak tawa dalam kelas-kelas kita, bukan beratti pembelajaran yang ramai oleh candaan-candaan, nyanyi-nyanyian, ataupun riuhnya tepuk tangan dari siswa-siswa. Tetapi pembelajaran yang menyenangkan adalah pembelajaran yang mampu mengikat siswa terlibat secara aktif baik fisik maupun kognitifnya terhadap project, tugas, instruksi yang diberikan oleh guru.

Kegiatan ini dibuka oleh Kabid. Bidang Pendidikan, Bapak Ahmad Mahzum, M.Pd dan dihadiri oleh sekitar 50an guru SDIT Assalamah dari berbagai tingkatan.

Matematika sebagai Prasyarat sebelum Numerasi
Tentunya banyak buku, tokoh yang mengungkapkan tetang numerasi. Tetapi Saya coba mencuplik kalimat yang simple tentang numerasi di laman National Numeracy. “Numeracy is havig the confidence to use basic maths at work and in every day life“.
Ada satu frase yang mencolok, yakni untuk menggunakan basic maths. Basic Maths sendiri saya sebut sebagai matematika dasar yang dipelajari di kelas-kelas matematika. Ada aritmetika, aljabar, geometri, statistika sesuai degan tingkatannya. Kalau Basic maths sendiri belum cakap, maka berbicara numerasi hanyalah lipsing saja. Bagaimana kita bisa menginterpretasi data dari tabel yang disajikan dalam kehidupan sehari-hari tanpa ada pengetahuan yang memadai tentang mean, median, modus.
Contoh Soal PISA
Coba kita cermati, setidaknya dua contoh berikut yang merupakan soal di PISA

Konteks yang diberikan soal ini mengarah pada data dan interpretasinya. Siswa-siswa kita diakui memiliki literasi yang belum baik. Apalagi ketika di dalam matematika, yang memiliki konteks bacaan yang panjang, tabel yang dirasa banyak, siswa akan merasa kesulitan sebelum masuk ke problemnya. Problem di atas sudah cukup kompleks, membandingkan dua data yang ada pada kolom, sekaligus kejelian membaca data pada masing-masing baris. Bagaimana siswa mampu menyelesaiakn dengan baik, jika tentang data maksimal, minimal, median, modus, rerata yang saya sebut sebagai matematika sekolah belum dipahami dengan baik?

Sedangkan pada contoh kedua, matematikanya sangat kental sekali. Tidak ada konteks “real life” yang bisanya di gaungkan dalam numerasi. Contoh ini mengarah pada Bilangan berpangkat. Sekali lagi, siswa tidak akan bisa menjawab kalau konsep tentang bilangan berpangkat, sifat-sifat yang melakat pada operasi bilangan berpangkat yang dipelajari di kelas-kelas matematika.