Artikel

Buku Siswa “sentuh boleh, baca boleh, tulis jangan …”

“Ayo nak, tuliskan jawabanmu di sini…” kata saya sembari menunjuk buku siswa dihadapan kita yang sedang belajar. “jangan bapak, tidak boleh. Ini buku pinjam. Tidak boleh di tulisi”, kata Gendhis, anak saya.

Itu adalah dialog kecil yang terjadi beberapa tahun lalu, dan masih sering muncul dialog tersebut tatkala menemani anak belajar tematik. Munculnya dialog tersebut terkadang dibarengi rasa kesal. Bukan kesal pada anak saya, tetapi kesal pada si “Buku Siswa”.

Kurikulum 2013 menjadi angin segar yang menimbulkan rasa optimisme untuk pendidikan yang lebih baik. Persiapan baik fisik maupun non fisik terus digenjot untuk memastikan kurikulum baru tersebut tepat sasaran ketika diimplementasikan di lapangan. Buku siswa dan Buku Guru hadir sebagai salah satu fasilitas fisik mengiringi kurikulum 2013. Saya melihat, Buku siswa diciptakan dan didesain sekaligus untuk menjadi lembar kerja bagi siswa. Ketika salahsatu perannya sebagai lembar kerja, maka akan sangat enak ketika siswa langsung mengerjakan tugas-tugas yang ada pada buku tersebut. Tetapi karena statusnya dipinjami sekolah, maka buku tersebut tidak boleh untuk di tulisi oleh siswa, dicoret-coret (mengisi jawaban di buku siswa), rusak, kotor dan lain sebagainya. Dengan alasan buku tersebut nantinya akan digunakan oleh adik kelasnya, oleh karenanya harus kembali ke sekolah (perpustakaan) dalam keadaan sebaik baiknya. Kondisi ini sedikit menyulitkan ketika membelajarkan anak. Sayangnya, buku tematik susah didapatkan di toko-toko buku yang bisa dimiliki.

Yah, buku siswa “sentuh boleh, baca boleh, tulis jangan …”

Hal ini menjadi rancu menurut saya. Ada ketidakcocokan desain dan penggunaannya pada buku siswa. Saya tidak tahu persis, apakah ini terjadi di semua sekolah, atau hanya di sekolah anak saya?. Apakah ini terjadi pada semua siswa di luar sana, atau hanya anak-anak di sekolah yang sama dengan anak saya?.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *